Saya yang kebetulan mendengar pernyataan itu kemudian merenung, berpikir, dan bertanya pada diri sendiri. Apa benar bila seseorang itu pandai fisika maka otomatis pandai matematika?
Sebetulnya pernyataan yang baru saja saya dengar dari kedua mahasiswa tadi bukanlah hal baru. Sebelumnya pun saya pernah mendengar pernyataan yang serupa. Ya, pernyataan yang menyatakan bahwa seseorang yang pandai fisika, maka otomatis dia akan pandai matematika.
Berpikir tentang hal itu, memaksa pikiran ini mengingat lembaran pengetahuan yang pernah saya baca dari buku-buku sejarah sains atau matematika.
Archimedes, yang di dalam ilmu fisika terkenal dengan hukum Archimidesnya, ternyata juga banyak berkontribusi pada matematika dalam bidang geometri dan Kalkulus.
Isaac Newton, yang dalam dunia fisika terkenal dengan hukum gravitasi benda langit, dan hukum: I, II, dan III Newtonnya, ternyata adalah juga merupakan seorang matematikawan yang amat besar kontribusinya di bidang Kalkulus.
Carl Friedrich Gauss, yang di dunia fisika terkenal dengan hukum Gaussnya dalam bidang kelistrikan, nyatanya dia adalah seorang ‘pangeran matematika’, dipandang sebagai matematikawan terbesar sepanjang masa.
Dan, Albert Einstein, si jenius fisikawan yang terkenal dengan teori relativitasnya itu, juga dikenal sebagai orang yang amat pandai matematika. Tak mungkin merumuskan teori relativitas, tanpa kemampuan matematika yang mumpuni.
Itulah beberapa contoh para ilmuwan, yang memperkuat pendapat bahwa, seseorang yang pandai fisika, maka otomatis dia pandai matematika.
Sekarang mari kita lihat contoh lain yang biasa-biasa.
Teman saya, yang dari jurusan fisika, sewaktu SMA adalah jawara olimpiade fisika. Ternyata benar, dia yang saya tahu juga amat mahir matematika.
Adik saya, yang kuliah di jurusan pendidikan fisika, ternyata memang pandai dalam matematika. Buktinya selalu meraih nilai A untuk mata kuliah matematika (Kalkulus) dan Matematika untuk Fisika.